Sabtu, 29 Juni 2013

Sebuah Cinta, Sebuah Cerita

Tulisan ini untuk ikut kompetisi @_PlotPoint : buku Catatan si Anak Magang Film " Cinta Dalam Kardus" yang tayang di bioskop mulai 13 Juni 2013


Saat cinta tidak lagi dapat diungkapkan dengan banyak kata, hanya dengan sebuah sikap yang tulus, apakah kamu akan berpaling untuk menerima diri ini apa adanya. Sampai detik ini belum dapat move on dari seseorang dengan sifat misterius, yang terkadang terlalu cuek dengan wanita. Kalau kebanyakan orang belum dapat move on dari mantan pacar atau gebetannya, lain dengan aku yang masih belum bisa move dari orang yang belum berstatus apa-apa.

Tahun ini adalah tahun kedua dimana aku belum dapat move on dari Afif. Kalau kata banyak orang sih ‘ bagai punuk yang merindukan bulan.’ Mengharapkan sesuatu yang tidak dapat kita raih. Masih dengan perasaan yang sama, rasa ini mungkin akan terus dihati sampai ada seseorang yang dapat menggantikannya. Biarkanlah cinta dan sayang ini dirasakan dalam hati saja. Semoga dengan seiringnya waktu akan ada rasa yang sama darinya.

Profesi Afif yang sebagai anak band, digemari banyak wanita. Membuat tertantang untuk mendapatkannya. Orang aneh saja yang masih mengharapkan cinta dari seseorang yang tidak perduli. Pernah suatu ketika dia berulang tahun yang ke dua puluh empat. Sebuah kertas berwarna putih berisikan ucapan dan ungkapan perasaan yang tidak sempat diberikan. Kertas tersebut tersimpan rapih dengan penyesalan, ‘Mengapa tidak diberikan saja, mungkin setelah itu dia dapat mengerti tentang sebuah perasaan yang terdalam.’

Mengisi kekosongan hati ini. Mencoba untuk move dengan menjalin hubungan bersama orang lain. Ada pria bernama Andro yang berprofesi sebagai seorang editor. Dia memberikan sebuah jurnal biru dengan empat puisi tentang senja sebagai hadiah ulang tahun. Ada dua kalimat yang tertulis di sana “ I know that I can’t give what you want but I know I can give what you need. Semoga dengan jurnal biru ini akan lahir banyak mahakarya dari sang bidadari.” Setelah dua minggu akhirnya dia memutuskan hubungan dengan alasan yang tidak jelas.  Cinta itu bukan sebuah makanan yang hanya dapat dicicipi saja, jika tidak enak kita bisa tidak menghabiskannya. Namun cinta harus dijalani dengan kesungguhan hati.

Sebulan setelah putus dari Andro, aku bertemu dengan seorang pria bernama Arya. Sebenarnya kami sudah saling mengenal karena  teman saat SMA. Sosoknya yang tinggi, kulit putih, mata  besar, dan  masih dengan logat betawinya. Kami saling berkomunikasi sampai akhirnya memutuskan untuk bertemu.   Dia bekerja di sebuah perusahaan foto. Beberapa kali kami hangout bersama, tiba di suatu malam dia menyatakan perasaannya. Sebuah jam berwarna merah sudah disiapkan untukku. Hati yang sedang kosong menerima saja cinta yang datang, menginjak bulan kedua bersama, disuatu malam melihat Arya sedang berjalan menggandeng mesra seorang perempuan di pusat perbelanjaan. Dan keesokan hari dia mengakhiri hubungan ini. Tidak menjamin sebuah persamaan menjadikan hubungan yang langgeng, tidak jarang perbedaan membuat segalanya lebih indah. Cinta itu tidak dapat dipaksakan, semua akan menjadi lebih indah jika keduanya sejalan dalam menjalin sebuah hubungan.

Masih ada beberapa benda dari mantan dan gebetan seperti boneka, jaket bola, flashdisk yang tersimpan rapih serta menjadi kenangan. Cinta, hanya ada satu kata namun memiliki banyak arti dan rasa didalamnya. Cinta itu akan tetap indah dari awal hingga akhir jika keduanya saling perduli, menghargai perbedaan dan menjalankannya bukan karena hanya keisengan saja.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar